Minggu, 01 Januari 2012

penelitian evaluasi

PENELITIAN EVALUASI DAN ANALISIS KEBIJAKAN
PENELITIAN EVALUASI
A. Pengertian dan Tujuan
McMillan dan Schumacher (2010) menjelaskan bahwa evaluasi merupakan salah satu penerapan dari penelitian yang digunakan untuk menentukan berhasil atau tidaknya atau apakah ada manfaat/nilai dari suatu program atau kebijakan dalam pendidikan. Penjelasan lainnya menurut Suharsimi Arikunto (2007) menyebutkan bahwa evaluasi merupakan kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan. Fungsi utama evaluasi dalam hal ini adalah menyediakan informasi-informasi yang berguna bagi pihak decision maker untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan. Dalam referensi yang lain disebutkan istilah penelitian evaluatif. Penelitian evaluatif merupakan suatu desain atau prosedur dalam mengumpulkan dan menganalisis data secara sistematik untuk menentukan manfaat dari suatu praktik pendidikan (Sukmadinata,2009). Selanjutnya dalam makalah ini istilah yang akan digunakan adalah penelitian evaluatif.
Secara umum tujuan dari penelitian evaluatif adalah untuk merancang, menyempurnakan, dan menguji pelaksanaan suatu praktek pendidikan. Secara terperinci tujuan penelitian evaluatif adalah sebagai berikut:
1. Membantu perencanaan pelaksanaan program.
2. Membantu dalam penentuan keputusan penyempurnaan atau perubahan program.
3. Membantu dalam penentuan keputusan keberlanjutan atau penghentian program.
4. Menemukan fakta-fakta dukungan atau penolakan terhdap program.
5. Memberikan sumbangan dalam pemahaman proses psikologis, sosial dan politik dalam pelaksanaan program serta faktor yang mempengaruhi. (Sukmadinata, 2009).
Jadi tujuan utama dari penelitian evaluatif adalah sebagai penyedia informasi berkaitan dengan program-program pendidikan yang telah dilaksanakan.
Ada dua tipe utama dari penelitian evaluatif yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
1. Evaluasi formatif lebih diarahkan pada mengevaluasi proses dan ditujukan untuk menyempurnakan atau memperbaiki atau menyempurnakan program. Contoh dalam praktik pembelajaran adalah pelaksanaan ulangan harian atau ujian blok.
2. Evaluasi sumatif lebih diarahkan pada mengevaluasi hasil, untuk menilai apakah program cukup efektif dan efisien sehingga diperoleh kesimpulan program tersebut dilanjutkan atau dihentikan.
TABEL 1.
Perbedaan antara Evaluasi Formatif dengan Evaluasi Sumatif
Evaluasi Formatif Evaluasi Sumatif
1. Tujuan Menyempurnakan program Menilal kelayakan program
2. Peogguna Pimpinan, administrator, dan staf. Pengguna atau pemberi dana
3. Pelaksana Evaluator internal Evaluator ekstemal
4. Pengumpulan data
. Multi metode, informal Instrumen baku (valid dan
reliabel)
5. Sampel Purposif atau probabilitas Probabilitas
6. Pertanyaan Kegiatan mana yang berjalan. mana yang tidak? - Apa hasilnya?
- Dalam situasi bagaimana?
- - Apa yang harus diperbaiki?
- Bagaimana perbaikannya? - membutuhkan biaya, sarana dan prasarana dan latihan apa?

B. Ruang lingkup penelitian evaluative dalam pendidikan
Penelitian evaluatif dalam pendidikan mencakup bidang yang cukup luas, adapun beberapa contoh bidang antara lain:
1. Kurikulum
Bagiannya antara lain desain kurikulum, implementasi dan evaluasi kurikulm. Material kurikulum berupa buku teks, modul, paket, perangkat keras, perangkat lunak, film, video, dll. Sumber belajar berupa laboratorium, workshop dan perpustakaan.
2. Program pendidikan
Anak berbakat, anak yang lambat, pencegahan putus sekolah, remedial. Programmnya antara lain: sains, social, matematika, ketrampilan PJJ.
3. Pembelajaran
Model-model pembelajaran seperti CTL, Discovery inquiry, pembelajaran terpadu,dll.
4. Pendidik
Guru, konselor dan administrator.
5. Siswa
Kepribadian, kecerdasan, sikap, minat, motivasi, kebiasan belajar dan prilaku menyimpang.
6. Organisasi
Sekolah dasar, sekolah menengah, pendidikan tinggi, pendidikan kejuruan, pendidikan khusus,dll
7. Manajemen
Personil, sarana dan prasarana, biaya, partisipasi masyarakat, dan kegiatan ekstrakurikuler.
C. Standar Evaluasi
Evaluasi memiliki dua kegiatan utama yaitu:
a. Pengukuran atau pengumpulan data
b. Membandingkan hasil pengukuran dan pengumpulan data dengan standar yang digunakan.
Joint Committee for Educational Evaluation (1994) telah merumuskan standar bagi evaluasi pendidikan. Standar tersebut mencakup empat aspek yaitu :
1. Standar kebergunaan (utility standards) untuk meyakinkan bahwa evaluasi akan membantu secara praktis dan berkala dalam memberikan informasi kepada pengguna. Standar ini meliputi delapan hal yaitu identifikasi pengguna, kredibilitas evaluator, lingkup dan pemilihan informasi, interpretasi oerkiraan, kecermatan laporan, deseminasi laporan, jadwal waktu laporan dan dampak evaluasi.
2. Standar kelayakan (feasibility standards) untuk menjamin bahwa laporan itu realistik, sederhana dan diplomatic. Standar ini mencakup kepraktisan prosedur, keberlanjutan dan efektifitas biaya.
3. Standar kesantunan (propriety standards), untuk menjamin bahwa evaluasi dilakukan secara legal, etis dan memperhatikan kepentingan yang terlibat dalam evaluasi dan dampak yang ditimbulkan. Standar ini meliputi: kewajiban formal, konflik kepentingan, kejujuran dan keterbukaan, hak umum yang harus diketahui, hak dari individu, interaksi manusia, keseimbangan laporan dan kewajiban bayar pajak.
4. Standar ketepatan (accuracy standards), untuk menjamin bahwa pelaksanaan evaluasi secara teknis formal dilaksanakan secara sempurna. Standar ini meliputi sebelas hal yaitu : identifikasi objek, analisis konteks, rumusan tujuan dan prosedur, pemilihan sumber, validitas dan realibilitas instrument, pengendalian sistematikan data, analisis data kuantitatif, analisis data kualitatif, ketepatan kesimpulan dan objektifitas laporan.

D. Pendekatan Penelitian Evaluatif
Dalam bukunya Research In Education, McMillan dan Schumacer menguraikan tiga pendekatan yang sering digunakan dalam penelitian evaluative yaitu evaluasi berorientasi tujuan, evaluasi berorientasi keputusan dan evaluasi berorientasi partisipan. Pendekatan evaluasi sebenarnya adalah strategi untuk menfokuskan kegiatan evaluasi dan menghasilkan laporan berdasarkan tujuan dan jenis informasi yang dibutuhkan.
Adapun penjelasan singkat dari ketiga pendekatan tersebut adalah sebgai berikut:
1. Evaluasi berorientasi tujuan adalah salah satu pendekatan dimana fokusnya adalah untuk mengukur tingkat ketercapaian tujuan dari praktik atau kegiatan pendidikan oleh kelompok sasaran atau mengukur hasil pelaksanaan program/kegiatan. Tingkat kecocokan antara tujuan dengan hasil menunjukkan tingkat keberhasilan program atau kegiatan. Program atau kegiatan yang diukur berkenaan dengan pelaksanaan kurikulum, pembelajaran, program pendidikan anak berbakat, percepatan belajar, bimbingan konseling, manajemen berbasis sekolah, penggunaan dana bantuan operasional, dsb. Kelompok sasaran yang diharapkan meningkat dari program tersebut adalah: siswa, guru, sekolah.
Tujuan yang menjadi sasaran pengukuran adalah tujuan-tujuan yang spesifik (objectives) yang dirumuskan dalam perilaku dapat diukur, bukan tujuan umum yang bersifat abstrak, yang pencapaiannya di luar kegiatan. Tujuan khusus ini disebut tujuan perilaku (behavioral objectives) atau performansi atau tujuan terukur. Tujuan tersebut mungkin merupakan tujuan antara untuk mencapaian tujuan berikutnya, tetapi bukan proses untuk mencapai tujuan akhir.
Langkah-langkah dalam evaluasi yang berorientasi pada tujuan:
1) Pemilihan tujuan yang dapat diukur.
2) Pemilihan instrumen.
3) Pemilihan desain evaluasi.
4) Pengumpulan dan analisis data.
5) Interpretasi hasil.
2. Evaluasi berorientasi keputusan adalah pendekatan evaluasi yang diarahkan pada proses penentuan jenis keputusan yang akan diambil, pemilihan, pengumpulan dan analisis data yang dibutuhkan untuk penentuan keputusan, dan penyampaian hasil (laporan) pada penentu keputusan.
Stufflebeam (1971) dalam Sukmadinara (2009) mengembangkan model evaluasi pendidikan yang bersifat komprehensif yang mencakup konteks (context), masukan (input), proses (proces), dan hasil (product), yang disingkat menjadi CIPP. Dan model tersebut dikembangkan evaluasi berorientasi keputusan.
1) Pengukuran kebutuhan. Kegiatan evaluasi diarahkan mengukur kondisi yang ada untuk kemudian dibandingkan dengan kondisi yang diharapkan. Keputusan yang di adalah pemilihan masalah.
2) Perencanaan program dan evaluasi masukan. Kegiatan evaluasi ditujukan untuk mengukur jenis program yang sesuai dengan tujuan yang dirumuskan berdasarkan hasil pengukuran kebutuhan dan strategi yang paling tepat. Keputusan diambil adalah perencanaan program.
3) Evaluasi implementasi. Kegiatan evaluasi difokuskan mengukur tingkat ketepatan implementasi sesuai dengan rancangan. Keputusan yang dambil adalah perubaha atau modifikasi program.
4) Evaluasi proses. Kegiatan evaluasi diharapkan pada sejauh mana pengembangan program dapat mencapai tujuan dan hasiln yang diharapkan. Keputusan yang diambil adalah perubahan penyempurnaan program.
5) Evaluasi hasil. Kegiatan evaluasi ditujukan pada mengukur kelayakan program sebagaimana dilihat dani proses dan hasil pelaksanaan program tersebut. Keputusan yang diambil adalah pemberian sertifikat dan penerimaan.
3. Evaluasi berorientasi partisipan adalah pendekatan bersifat holistik atau menyeluruh, menggunakan aneka instrumen dan aneka data, agar diperoleh pemahaman yang utuh dan sudut pandang dan nilai-nilai yang berbeda tentang pelaksanaan pendidikan menurut perspekti atau sudut pandang para partisipan.
Ada beberapa karakteristik dasar dan evaluasi naturalisik atau evaluasi partisipan.
1) Menggunakan pendekatan holistik atau menyeluruh, melihat pendidikan sebagai kegiatan manusia yang kompleks.
2) Memasukkan dan menjaga pluralisme nilai daripada pembatasan hanya pada nilai-nilai tertentu dalam evaluasi praktik pendidikan.
3) Melaporkan potret utuh dan situasi yang dievaluasi, situasi perorangan, kelas, sekolah, wilayah, kegiatan, program, dll., yang berada dalam konteks yang lebih luas sesuai fungsinya
4) Menggunakan pendekatan berpikir induktif, yang berkembang dan pengamatan dan temuan-temuan dan lapangan.
5) Menggunakan data yang beraneka dan berbagai sumber yang berbeda yang diperoleh dengan menggunakan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif.
6) Menggunakan desain penelitian yang tumbuh atau berubah (emmergent) yang memungkinkan memberikan pemahaman tentang sesuatu kegiatan dalam suatu konteks, hal-hal yang mempengaruhi, variasi, perubahan, dli.
7) Mencatat kenyataan yang beraneka, bukan hanya satu kenyataan.
Selanjutnya berkembang suatu pendekatan baru yang disebut evaluasi responsive. Evaluasi ini didasarkan pada apa yang dilakukan orang secara alamiah, bila mereka mengevaluasi sesuatu meraka mengamati dan mereaksi. Evaluasi ini bersifat siklikal, beberapa kejadian mengikuti beberapa kejadian, dan banyak kejadian yang terjadi secara serempak, evaluator harus kembali pada kejadian demi kejadian sebelum mengakhiri penelitian. Stake (1975) menggambarkan urutan kegiatan dalam evaluasi responsive ini dalam sebuh jam.


















E. Langkah-langkah dalam Evaluasi program
David Strahan, Jewel Cooper dan Martha Wood (2001) dalam Sukmadinata (2009) berdasarkan hasil penelitianya pada Sekolah Menengah menyarankan langkah-langkah penelitian evaluatif sebagai berikut :
1. Klarifikasi alasan melakukan evaluasi
Ini merupakan langkah pertama dalam penelitian evaluatif dimana peneliti atau evaluator menjelaskan alasan-alasan mengapa harus dilakukan evaluasi. Alasan bisa bersumber dari peneliti itu sendiri melihat ada masalah terkait jalanya program atau alasan berasal dari pihak luar karena adanya tawaran dari pimpinan lembaga atau adanya keluhan dari masyarakat pengguna.
2. Mimilih model evaluasi
Pemilihan model evaluasi atau pendekatan penelitian didasarkan atas:
a. Tujuan evaluasi dan pertanyaan penelitian
b. Metode pengumpulan data
c. Hubungan antara evaluator dan administrator, melihat evaluasi, individu-individu dalam program dan organisasi yang akan dievaluasi.
3. Mengidentifikasi pihak-pihak yang terkait
Pada tahap ini harus ditentukan siapa yang akan dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan pengumpulan data, kemudian ditentukan juga siapa yang akan menjadi narasumber, sumber data, partisipan,dll.
4. Penentuan komponen yang akan dievaluasi
Ada beberapa komponen dalam program yang bisa dijadikan objek dalam penelitian evaluatif diantaranya tujuan program, sumber program, prosedur pelaksanaan program, siapa pelaksana program dan manajemen program. Namuan sebelum memilih komponen tersebut harus disesuaikan dengan tujuan penelitian evaluasi.
5. Mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan evaluasi
Beberapa pertanyaan penting yang bisa diajukan dalam penelitian evaluatif:
a. Tujuan atau sasaran apa yang ingin dicapai oleh program pendidikan?
b. Kegiatan-kegiatan utama apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut?
c. Strategi atau metode apa yang digunakan dalam program tersebut?
d. Bagaimana kondisi sumber daya pendidikan pendukung program tersebut?
e. Bagaimana manajemen pelaksanaan program dan sumber daya pendukungnya?
6. Menyusun desain evaluasi dan jadwal kegiatan
Desain evaluasi berisi langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan, sasaran evaluasi, teknik pengumpulan data yang digunakan serta para evaluator.
Jadwal kegiatan evaluasi harus disusun secara rinci dan kronologis.
7. Pengumpulan dan analisis data
Untuk pengumpulan data dibutuhkan adanya instrumentasi evaluasi. Instrumen ini dapat berupa tes atau non tes yang sudah di uji validitas dan reliabilitasnya. Data kuantitatif didapatkan melalui instrumen yang sudah baku (tes dan non tes) sedang data kualitatif diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi,dll.
Analisis data dapat berupa analisis kuantitatif (statistika deskriptif atau inferensial) maupun analisis data kualitatif berupa analisis naratif kualitatif.
8. Pelaporan hasil evaluasi.
Isi laporan penelitian evaluatif harus memuat rancangan penelitian, metodologi, temuan-temuan serta kesimpulan dan rekomendasi. Kesimpulan berisi jawaban atas pertanyaan penelitian atau pembuktian hipotesis sedangkan rekomendasi berisi masukan-masukan dari temuan-temuan evaluasi untuk penyempurnaan atau perbaikan program.

ANALISIS KEBIJAKAN
1. Pengertian
Kebijakan atau dalam banyak literatur disebut juga kebijaksanaan (bahasa inggrisnya policy) adalah rangkaian konsep dan asas yg menjadi garis besar dan dasar rencana dl pelaksanaan suatu pekerjaan, kepemimpinan, dan cara bertindak.
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/kebijakan#ixzz1hN3hRe7c
Mcmillan dan Schumacer (2010) menjelaskan kebijakan adalah upaya atau tindakan yang dilakukan oleh pemerintah baik dalam bentuk aksi, asumsi maupun keputusan-keputusan yang semuanya berpengaruh terhadap kehidupan publik.
Analisis kebijakan mengevaluasi kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk memberikan pembuat kebijakan rekomendasi aksi yang bersifat pragmatis. Analisis kebijakan fokus pada hal-hal berikut:
a. Formula kebijakan, khususnya pada pada penentuan putusan pendidikan yang akan dianalisis,
b. Penerapan program yang menyebabkan adanya kebijakan.
c. Revisi kebijakan, dan
d. Evaluasi dari keefektifan atau efisiensi kebijakan.
2. Karakteristik analisis kebijakan
Ada dua pendekatan utama dalam analisis kebijakan yaitu :
a. Pendekatan makro.
Pendekatan ini didasarkan pada model ekonomi seperti analisis biaya dan menggunakan database skala luas.
b. Pendekatan mikro
Pendekatan ini ditujukan untuk menemukan fakta-fakta di lapangan dan lebih menekankan pada penelitian kualitatif.
3. Metode analisis kebijakan
Analisis kebijakan menggunakan berbagai macam metode untuk menganalisis masalah dari kebijakan. Beberapa metode tersebut antara lain:
a. Fokus sintesis
Metode ini menekankan pada ulasan/review yang selektif terhadap materi tertulis atau penelitian yang relevan dengan pertanyaan kebijakan. Salah satu contoh dari metode sintesis terfokus adalah Studi Lembaga Pembangunan Internasional (Agency for International Development = AID) atau study for AID, yaitu suatu studi tentang masalah penyediaan air di pedesaan di Negara-negara berkembang. Usaha penelitian kebijakan ini menurut Burton (seorang peneliti dari Inggris), sebagaimana yang dikutip oleh Sudarwan Danim dalam bukunya Pengantar Studi Penelitian Kebijakan,
dilakukan dengan cara:
a. Mengkaji sumber-sumber pustaka mutakhir yang tersedia dan relevan dengan masalah atau fokus penelitian.
b. Menuangkan pengalamannya di lapangan selama lima tahun terakhir di Afrika dan Amerika Latin.
c. Mengadakan diskusi-diskusi dengan individu-individu di Ross Institute, International Reference Centre for Community Water Supplydi Hague, Organisasi Keehatan Dunia (WHO) dan The British Ministry for Overseas Developmnet.
b. Analisis data sekunder
analisis sekunder adalah analisis dan reanalisis database yang ada. Namun, pertanyaan kebijakan atau keputusan yang memandu reanalisis model lain dari pertanyaan penelitian tradisional dalam studi meta-analisis. Alih-alih memeriksa database untuk menentukan keadaan pengetahuan tentang ukuran pengaruh praktik pendidikan tunggal, analisis kebijakan menghasilkan model kebijakan yang berbeda dan pertanyaan-pertanyaan berdasarkan database untuk memeriksa database. Rahayu (2011) menyatakan metode analisis data sekunder hanya mungkin dilakukan jika data dasar yang diinginkan diperoleh secara mencukupi. Apabila tidak mencukupi maka perlu membangun data dasar baru (new database) yang diseleksi dari kombinasi data dasar yang berbeda. Jika data dasar tidak tersedia, peneliti harus memakai metode lain.
c. Metode Kualitatif
Beberapa bentuk metode kualitatif yang digunakan untuk mencari data primer dalam penelitian ini antara lain wawancara, observasi dan kelompok terfokus. Kelompok terfokus ialah salah satu jenis teknik yang dapat dipakai, dimana individu dicari secara terseleksi dalam kelompok dan diarahkan kepada diskusi yang terfokuskan pada topik pra spesifik. Kelompok semacam ini sangat baik untuk membangun isu dan menjejaki faktor-faktor potensial sebagai penyebab suatu peristiwa.
Aplikasi metode kualitatif dalam penelitian kebijakan dilakukan dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
a. Merumuskan masalah sebagai fokus studi penelitian kebijakan.
b. Mengumpulkan data lapangan.
c. Menganalisis data.
d. Merumuskan hasil studi.
e. Menyusun rekomendaasi untuk pembuatan kebijakan.
5. Metode Survai
Secara umum aplikasi metode survai dalam penelitian kebijakan menempuh langkah-langkah sebagai berikut:
a. Perencanaan dan perancangan survai.
b. Memilih subject.
c. Menyusun instrument.
d. Menentukan prosedur pengumpulan data.
e. Melatih pewawancara atau pengumpul data.
f. Pengumpulan data.
g. Pengolahan dan analisis data.
h. Penyusunan laporan dan rekomendasi hasil peneltian untuk pembuatan kebijakan.
d. Penelitian Kasus
Penelitian atau studi kasus seringkali digunakan dalam metode penelitian kebijakan sebagai studi yang cepat, biaya efisien dan ada ruang yang memungkinkan untuk mendalami sebuah situasi. Beberapa langkah-langkah studi kasus dalam konteks penelitian kebijakan adalah sebagai berikut:
a. Merumuskan tujuan penelitian yang ingin dicapai.
b. Menentukan atau merancang pendekatan yang akan digunakan.
c. Mengumpulkan data yang relevan.
d. Menganalisis data.
e. Membuat laporan dan rekomendasi hasil penelitian.
e. Analisis Biaya Keuntungan
Analisis biaya keuntungan me-refer kepada set metode dimana peneliti kebijakan membandingkan biaya (cost) dengan keuntungan (benefit)yang akan diperoleh oleh masyarakat berdasarkan alternatif pilihan kebijakan.
Dalam makna yang lebih luas, analisis biaya-keuntungan untuk aplikasi sebuah kebijakan dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, keuntungan jangka pendek dari biaya yang diinvestasikan. Kedua, keuntungan jangka panjang dari biaya yang diinvestasikan.
f. Analisis Keefektifan Biaya.
Dalam metode ini Sudarwan Danim dalam bukunya Pengantar Studi Penelitian Kebijakan menyatakan Dalam analisis keefektifan biaya, biaya moneter pilihan kebijakan dapat dihitung. Bagaimanapun keuntungan dari kebijakan dapat dituangkan dalam terminologi biaya aktualnya atau hasil yang diharapkan. Analisis semacam ini relative sangat mudah dilakukan, oleh karena yang dihitung adalah biaya yang paling fisibel, dalam arti tidak berlebihan dan tidak pula terlalu kecil.
Berdasarkan kutipan di atas metode ini bertujuan untuk mempertimbangkan tuntutan pembiayaan yang menjadi dasar dalam menentukan kebijakan oleh pembuat kebijakan.
g. Analisis Kombinasi
Kombinasi analisis biaya keuntungan dengan analisis keefektifan biaya dipandang cocok bagi usaha untuk merumuskan kebijakan, mengingat pada kedua analisis tersebut dimensi biaya dinilai dari variable sejenis.
Menurut Sudarwan Danim, ada tiga jenis variable biaya, yaitu:
a. Biaya-biaya langsung, seperti untuk keperluan personalia dan fasilitas fisik.
b. Biaya-biaya tidak langsung.
c. Biaya-biaya oportunitas, seperti apa yang akan dicapai jika sumber-sumber digunakan secara berbeda.

Menganalisi biaya dari sudut keefektifanya relatif mudah dilakukan, namun untuk menganalisis variasi biaya yang muncul sebagai dampak kebijakan itu tidak jarang sangat sulit. Disinilah diperlukannya peranan para peneliti dari sebuah kebijakan melalui penelitian kebijakan.
h. Penelitian Tindakan
Pada dasarnya penelitian tindakan bertujuan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan atau pendekatan-pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah-masalah social dengan aplikasi langsung di ruangan atau pada situasi dunia kerja.
Sedangkan relevansinya dengan penelitian kebijakan adalah Bahwa penelitian tindakan (action research) mengkombinasikan dua sisi secara langsung, yaitu sisi penelitian yang dilakukan oleh peneliti dan sisi kebijakan atau tindakan yang dilakukan oleh klien atau pembuat kebijakan untuk mencapai tujuan tertentu berupa ketrampilan prakits dan pendekatan baru yang relevan bagi perbaikan atau pengembangan tatanan sosial.

Dari kutipan diatas dapat dinyatakan bahwa ada titik temu antara penelitian tindakan dengan penelitian kebijakan, meskipun tidak dapat dikatakan identik. Beberapa titik temunya adalah:
Pada tahap perumusan masalah, baik pada penelitian tindakan maupun pada penelitian kebijakan, kerja sama antara peneliti dengan pembuat kebijakan mutlak diperlukan. Kedua jenis penelitian ini sama-sama bersifat empiris dan lemah ketertiban ilmiahnya, sama-sama berpijak pada acuan teoretis yang tajam. Sebagai salah satu metode dalam penelitian kebijakan, penelitian tindakan harus diakhiri dengan rekomendasi yang aplikatif bagi pembuat kebijakan untuk memecahkan masalah sosial.

MANFAAT DAN KETERBATASAN DARI PENELITIAN EVALUATIF DAN ANALISIS KEBIJAKAN
Pendidikan adalah kegiatan yang kompleks yang terjadi dalam sebuah masyarakat yang lebih besar dan selalu berubah terdiri dari sistem sosial, ekonomi, dan politik saling bergantung. Dalam konteks ini, evaluasi penelitian dan analisis kebijakan membawa perspektif rasional dan empiris untuk arena keputusan pendidikan dan pembuatan kebijakan.
Hasil evaluasi dan studi kebijakan memiliki manfaat langsung bagi perbaikan pendidikan.
Beberapa manfaat yang paling dirasakan bagi dunia pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Memungkinkan perencanaan dan pelaksanaan perbaikan sekolah pada basis sistematis.Bukti apa yang bekerja adalah penting dalam pembenaran program. Bukti apa yang tidak bekerja memungkinkan para pembuat keputusan dan orang-orang dengan pengaruh atas kebijakan merombak alternatif dianggap sebagai solusi.
2. Menguji beberapa mitos populer tentang dampak pendidikan pada pengembangan siswa.
3. Menunjukkan tanggung jawab profesional dengan menilai kualitas program pendidikan.
4. Mengurangi ketidakpastian tentang praktik pendidikan ketika pengalaman terbatas.
5. Memenuhi persyaratan lembaga eksternal untuk laporan yang melegitimasi keputusan dan meningkatkan citra publik.
6. Melakukan analisis efektivitas biaya program dan praktek yang membutuhkan pengeluaran yang besar.
7. Memberikan alternatif-alternatif pemecehan masalah bagi policy maker atau stake holders untuk memungkinkan mereka untuk lebih mengantisipasi isu-isu program dan kebijakan.
Kemungkinan Keterbatasan Keterbatasan yang paling sering dikutip adalah sebagai berikut:
1.Kegagalan banyak penelitian untuk meningkatkan praktek-praktek pendidikan dan pembentukan kebijakan pendidikan. Studi yang sering dilakukan tanpa terlebih dahulu memahami faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan informasi penelitian bahkan ketika studi dilakukan dengan baik.
2. Kurangnya apresiasi bahwa penelitian ini hanya satu dari banyak pengaruh pada kebijakan pendidikan, praktek, dan keputusan. Evaluasi penelitian dan analisis kebijakan tidak dapat memperbaiki masalah, tetapi mereka dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan, prestasi sorot, mengekspos area yang rusak dan fokus pada alternatif kebijakan yang realistis.Mengoreksi masalah merupakan langkah terpisah dari menggunakan hasil penelitian.
KREDIBILITAS LAPORAN EVALUASI DAN KEBIJAKAN
Kriteria untuk menilai kecukupan laporan menekankan dua aspek: (1) lokus evaluasi dan desain dan (2) temuan, kesimpulan, dan rekomendasi. Banyak kredibilitas laporan bertumpu pada mengusulkan dan melakukan studi sesuai dengan Standar Evaluasi
The Program Evaluation Standards (Joint Committee, 1994) menjelaskan beberapa pertanyaan standar :
1. Apakah fokus evaluasi menyatakan, bersama dengan konteks, tujuan, dan deskripsi dari praktek atau kebijakan, tujuan umum dari penelitian, dan evaluasi atau kebijakan pendekatan yang digunakan?
2. Apakah pertanyaan penelitian yang dinyatakan kering prosedur pengumpulan data dananalisis tertentu? Apakah prosedur dipertahankan?
3. Apakah hasil dilaporkan secara seimbang dan dengan pengungkapan penuh dan jujur,termasuk keterbatasan penelitian?
4. Apakah tujuan-laporan sejauh bahwa temuan ini didasarkan pada fakta diverifikasi dan bebas dari distorsi karena perasaan pribadi dan bias?
5. Apakah kesimpulan dan rekomendasi dibenarkan dan merupakan informasi yang cukup disajikan untuk menentukan apakah kesimpulan dan rekomendasi dijamin?
6. Apakah penjelasan alternatif yang masuk akal disajikan untuk temuan, jika diperlukan?

DAFTAR PUSTAKA
Danim, S. 2005. Pengantar Studi Penelitian Kebijakan. Jakarta : Bumi Aksara
Lababa, J. 2008. Evaluasi Program: Sebuah Pengantar. Diakses pada senin 5 desember 2011 dari http://evaluasipendidikan.blogspot.com/2008/03/evaluasi-program-sebuah-pengantar.html.
McMillan JH dan Schumacer, S. 2010. Research In Education : Evidence Based Inquiry. New Jersey : Pearson Education Inc.
Sukmadinata, N.S. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : PT. Remaja Rosda Karya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar